Launching Kampoeng Bogor dilakukan tanggal 24 februari 2007 di aula P4w IPB.
You are here: Home
Para Pengagum Kota Ini Dalam Catatan Lama…
Alfred R. Wallacea dalam bukunya yang terkenal The Malay Archipelago pernah berkunjung ke kebun raya. Selain kekagumannya terhadap Kebun Raya, dia juga menyatakan kekecewaannya karena jalan setapaknya tidak nyaman sehingga melelahkan untuk jalan-jalan apalagi berada di bawah teriknya matahari tropis. Walaupun diakuinya tanpa keraguan sedikitpun tentang kekayaan jenis tropisnya, namun sayangnya tata letaknya tidak karuan, tidak cukup tersedia pekerja yang mempunyai keahlian untuk menjaga segala sesuatu pada tempatnya, termasuk tumbuhannya sendiri tidak sehebat dan seindah yang dia miliki.
Sejarah tempat itu terus bergulir…sebuah tempat yang menjadi saksi bisu perubahan peradaban kota, dimana para pelakunya kini tinggal segelintir saja. Menerawang dan membayangkan tempat dimana dulu para peneliti tanaman karet dan coklat beristirahat…sebuah taman dengan kompleks bangunan tempat tinggalnya…dan kami menyebutnya Kedoenghalang Gununggede.
Pada suatu masa ketika wilayah ini memulai babak baru sebagai sebuah kota…masa itu kisahnya diawali dengan perpecahan dan kekacauan karena sebuah kepentingan. Dan masuknya Islam ke Jawa Barat tahun1479 menandai awal babak ini. Banten yang mula-mulanya berada dalam kekuasaan Pajajaran melepaskan diri dan menyusun kekuatan untuk mengalahkan Pajajaran. Wilayah yang berada di daerah sempit, diapit sungai Cisadane dan Ciliwung ini pada tahun 1482 telah memindahkan pusat kerajaan ke sebuah tempat (dari tempat semula di Galoe (Galuh)). Dan perpindahan ini adalah untuk yang terakhir kalinya. Ditempat ini Banten dibawah pimpinan Maulana Hasanudin menyerang dan menghancurkan Pajajaran pada tahun 1579… Hancur dan hilanglah sebuah ibu kota. Kota itu di kalahkan tapi tidak untuk dikuasai. Lama kelamaan wilayah ini berganti rupa menjadi hutan belantara.